Senin, 06 Agustus 2018

Galaxy S9 dinilai gagal, ada apa dengan Samsung?


Samsung merupakan vendor smartphone terbesar di dunia yang juga satu-satu pemain industri seluler utama selain Apple yang mampu menghasilkan uang secara konsisten selama beberapa tahun terakhir. Namun kesuksesan Samsung baru-baru ini sedikit dinodai dengan perangkat Galaxy S9.

Memang, pasar secara keseluruhan stagnan, dan Anda hampir tidak bisa menyebut iPhone X sebagai penyebabnya. Masalahnya adalah mungkin dipicu dengan cepatnya pertumbuhan dari perusahaan seperti Huawei, Xiaomi, dan OPPO yang ikut terjun dalam pasar 'Barat'.

Apakah itu buruk?


Jawaban singkatnya tidak terlalu buruk. Belum, dan pasti tidak dibandingkan dengan veteran lain seperti BlackBerry dan Nokia yang perlahan-lahan kembali dari kematian. Meskipun hanya nama.

Untuk kasus Galaxy S9, penjualan kuartal pertama tercatat 10 juta unit, kuartal kedua 9 juta unit. Jika analis benar, Samsung masih bisa menambahkan 12 juta unit pengiriman hingga tahun ini. Sehingga Samsung bisa menjual di atas 30 juta unit pada saat Galaxy S10 rilis.

Sebagai informasi, target penjualan Samsung untuk Galaxy S9 dan S9+ tahun 2018 adalah 43 juta unit. Lebih besar dari target Galaxy S8 dan S8+ di tahun lalu yang 41 juta unit. Mari kita berlogika menurut data yang ada. Di atas telah disebutkan bahwa di kuartal 1 Sammy menjual hanya 10 juta unit, kemudian kuartal kedua turun menjadi 9 juta unit. Jika kita membuat kuartal 3 dan 4 nanti Samsung menjual masing-masing 9 juta unit (tanpa penurunan penjualan dari kuartal 2), maka Sammy hanya menjual 37 juta unit di tahun 2018. Artinya, Galaxy S9 gagal mencapai target penjualan seperti yang diharapkan Samsung. Ditambah lagi, 9 Agustus nanti Galaxy Note 9 rilis. Yakin konsentrasi publik masih mengarah ke Galaxy S9?

Turunnya pendapatan mereka, diketahui karena penjualan smartphone dan panel display yang sedang tak bergairah. Untuk smartphone, disebabkan karena penjualan Samsung Galaxy S9 tak sesuai dengan rencana. Sehingga tak mendongkrak pendapatan konsolidasi mereka.

"Divisi Komunikasi TI dan Mobile melaporkan penurunan pendapatan atas penjualan yang melambat dari Galaxy S9," tulis keterangan resmi yang dikutip dari Samsung Newsroom, Rabu (1/8).

Sementara untuk bisnis Display mereka, perusahaan melihat permintaan yang lemah pada panel OLED fleksibel dan penurunan harga panel LCD di kuartal kedua. Meski begitu, Samsung Electronics masih tertolong karena beberapa divisinya justru memperlihatkan penguatan pendapatan, seperti penjualan TV premium dan bisnis semikonduktor.

Kita akan sedikit membahas bagaimana tren penjualan Samsung dalam beberapa tahun terakhir.

1. Rekam jejak Samsung

Pada tahun 2012 lalu, Sammy merilis Galaxy S3. Sistem operasinya menggunakan Android 4.8 Ice Cream Sandwich. Smartphone ini mengumpulkan total 50 juta unit pengiriman. Saat itu, tidak ada model kedua yang membantu, dan tahun berikutnya Galaxy S4 melakukan bisnis yang (kurang lebih) hebat dengan mencapai penjualan 40 juta unit pengiriman.

Segalanya perlahan menurun pada tahun 2014. Kecuali Galaxy S7 2016 dan S7 Edge yang mencetak angka gabungan sebesar 55 juta unit. Dan ini semakin menunjukkan keanehan ketika Galaxy S8 yang didesain ulang secara radikal gagal terhubung pada tingkat yang sama dengan pelopornya. Tetapi mungkin waktunya tidak tepat untuk revolusi 'Infinity Display'.

Berdasarkan K-IFRS (Korean International Financial Reporting Standards), ada penurunan secara penjualan. Penurunan penjualan ini tidak pernah menjadi hal yang baik, terutama di mata pemegang saham. Seringkali, ketika ada keragaman produk, tinggi dan rendah dapat diseimbangkan dengan saling menutupi. Namun yang ditekankan di sini adalah Galaxy S9 penjualan lebih lemah dari pendahulunya.

2. Mengapa Samsung Galaxy S9 kurang laku?

Jangan salah paham dulu. Samsung Galaxy S9 dan S9+ adalah smartphone yang hebat. Masalahnya adalah Samsung tidak benar-benar menyajikan sebuah smartphone yang diinginkan oleh konsumen.

Artinya begini, apa yang membuat para pemiliki Galaxy S8 atau S7 langsung ingin upgrade ke S9? Intinya, pembaruan apa, inovasi apa, pesona apa yang membuat mereka sangat menginginkan Galaxy S9 dengan mengabaikan persoalan harga yang tinggi? Sementara itu kita tahu bahwa untuk persoalan baterai saja Sammy hanya menyematkan baterai dengan kapasitas 3000mAh! Galaxy S9+ hanya 3500mAh. Sedangkan kompetitor Samsung sudah bermain di kapasitas baterai di angka 4000an lebih, bahkan 5000mAh!

Pada dasarnya, ketika Samsung gagal menerapkan teknologi pengenalan sidik jari di bawah layar pada Galaxy S9, seharusnya pihak perusahaan tahu bahwa tidak ada yang benar-benar menarik tentang produk andalannya itu. Yang mana membuat para konsumennya mau berpindah dari S7 atau S8 ke S9. Atau bahkan dari pengguna iPhone ke perangkat S9. Sayangnya itu tidak ada.

3. Inovasi Samsung dipandang sebelah mata

OK, kita bisa menyebut bahwa Samsung membuat terobosan dengan menyematkan kamera dengan dual-aperture yang fenomenal. Akan tetapi publik justru melihat bahwa Huawei P20 Pro dengan triple-camera di belakang jauh lebih fenomenal dari itu.

Jika Samsung terus menjalankan hal yang semacam ini secara konsisten, maka secara konsisten pula penjualan mereka bakal turun di bidang smartphone. Mengingat banyak sekali celah yang dapat dimasuki oleh para kompetitor, termasuk daya baterai, fitur peningkatan keamanan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, Samsung tidak memiliki basis penggemar yang sama seperti Apple. Analis berasumsi ada 10 atau 15 juta orang di dunia ini yang masih memiliki Galaxy S7 dan S8 Edge, tidak ada yang menjamin mereka akan langsung beralih ke Galaxy S10 yang akan datang.

Beberapa dari mungkin akan lebih tertarik dengan Huawei P30 yang bakal memiliki lima kamera sekaligus sebagai gantinya. Atau mungkin salah satu perangkat bezelles dari OPPO atau Vivo bisa menjadi pilihan. Atau bahkan iPhone X Plus. Itu semua tergantung pada seberapa pahit orang-orang telah kecewa dengan Galaxy S9.

Samsung masih memiliki kesempatan membalikkan keadaan ini. Namun salah langkah tambahan apa pun dapat sangat merugikan prospek mereka dalam mendominasi dunia smartphone di masa mendatang.

Kami tetap berharap Samsung dapat terus memberikan tidak hanya yang terbaik, namun yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar