Senin, 23 Juli 2018

MIKTA perkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan


Pariwisata berkelanjutan dibahas di Pertemuan MIKTA di Marriot Hotel Yogyakarta, 8-9 Agustus 2018. Kegiatan ini mengambil tema Membangun Jaringan MIKTA Mengenai Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan. Sebanyak 45 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Yaitu dari Meksiko, Indonesia, Korea, Turki, dan Australia.

Tenaga Ahli Menteri Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan, Valerina Daniel menjelaskan, pertemuan ini digelar karena pariwisata dinilai sebagai salah satu sektor ekonomi dengan perkembangan tercepat.

"Pariwisata juga semakin dinilai sebagai industri yang dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan ekspor, dan menghasilkan kesejahteraan di seluruh dunia," jelas Valerina.

Selain itu, pariwisata juga memiliki potensi sebagai pendukung dalam pencapaian Agenda 2030 Sustainable Development, termasuk 17 Sustainable Development Goals (SDGs) dan 169 target yang diasosiasikan dengan SDGs tersebut.

"Pariwisata termasuk dalam tiga tujuan yang terdapat di SDGs yaitu tujuan ke-8, 12, dan 14," tambahnya.

Dijelaskannya, pertemuan MIKTA bertujuan memfasilitasi para ahli dalam bidang dimaksud dan para pemangku kepentingan. Dengan cara menyediakan platform bagi pihak-pihak tersebut untuk bertukar pengetahuan, update mengenai tren pariwisata, dan membentuk jaringan pelaku/operator pariwisata.

"MIKTA merupakan platform konsultasi lintas regional dari negara-negara Meksiko, Indonesia, Korea, Turki, dan Australia," sebutnya.

Valerina menambahkan, pariwisata berkelanjutan merupakan tren terkini yang menjadi incaran wisatawan dunia.

"Wisatawan zaman now diharapkan tidak hanya sekadar berkunjung ke destinasi, tapi juga terlibat menjaga lingkungan dan budayanya. Travel, enjoy, respect!" kata Valerina.

Peserta pertemuan jugadiajak berkunjung ke Desa Ekowisata Pentingsari, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Desa Wisata ini merupakan salah satu Desa yang penerima penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Awards).

"Mereka akan diajak berinteraksi dengan penduduk lokal, ikut serta dalam aktivitas mereka seperti membajak sawah dan panen padi, belajar menari tarian khas Jawa, belajar Karawitan, serta banyak kegiatan lainnya," papar Valerina.

Desa ini juga menyediakan fasilitas outbond dan sepak bola lumpur untuk pengunjung. Terdapat pula beberapa atraksi pariwisata yang dapat dikunjungi di desa ini. Seperti, Kaliurang dan Kali Kuning dengan pemandangan landscape Merapinya yang sangat indah. Ada juga Pancuran Sendangsari yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, Batu Luweng yang menjadi saksi perjuangan Pangeran Dipenogoro melawan Belanda, Watu Gendong, Watu Payung dan lainnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, ini merupakan komitmen Kemenpar untuk mengembangkan sektor pariwisata dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan.

"Pariwisata memiliki keunggulan dalam menjaga lingkungan dengan menerapkan environment sustainability atau tourism sustainability dengan prinsip yakni semakin dilestarikan dan semakin menyejahterakan, papar Menpar Arief Yahya.

Ia mengingatkan, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk bersaing di level dunia dengan kekayaan alam dan budayanya.

"Saya tidak mampu membayangkan bangsa ini mampu memenangkan persaingan di manufacturing, tapi kita bisa menang di pariwisata atau paling tidak bisa membayangkannya untuk menang. Kalau kamu bisa membayangkan, maka kamu bisa mencapainya," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar